KARYA TULIS ILMIAH GUPRES 2014

KARYA TULIS ILMIAH GURU BERPRESTASI 2014

KARYA TULIS ILMIAH
JUDUL

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK
DENGAN MENYEBUT HASIL PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MELALUI MEDIA BENDA ASLI SAMPAI 10
PADA KELOMPOK B DI TK DHARMA WANITA 2 KAMULAN
KECAMATAN DURENAN KABUPATEN TRENGGALEK

Disusun Untuk Memenuhi Seleksi Guru Berprestasi

Oleh : ZULATIPAH, S. Pd
TK DHARMA WANITA 2 KAMULAN

KECAMATAN DURENAN
KABUPATEN TRENGGALEK
JAWA TIMUR
TAHUN 2014
PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Dengan Menyebut Hasil Penjumlahan Dan Pengurangan Melalui Media Benda Asli Sampai 10 Pada Kelompok B Di Tk Dharma Wanita 2 Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek
telah disahkan dalam penyeleksian Guru Berprestasi Tingkat Kecamatan durenan di UDPK Kecamatan Durenan pada hari sabtu, tanggal 05 April 2014 M
Karya Tulis ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memenuhi seleksi Guru Berprestasi tahun 2014.

Kamulan, 05 April 2014

Kepala TK Penulis

ZULATIPAH,S.Pd ZULATIPAH, S. Pd

Mengetahui
Plt. Kepala Unit Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kecamatan Durenan

Drs SUSANTO
NIP. 19560404 197702 1 003

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan naskah Karya Tulis Ilmiah tanpa halangan suatu apapun.
Maksud penyusunan naskah ini adalah untuk memenuhi seleksi Guru Berprestasi 2014. Karya Tulis Ilmiah ini merupakan hasil penelitian di Taman Kanak-kanak dan merupakan harapan bagi setiap guru TK untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak TK, di antaranya dengan menyebut penjumlahan dan pengurangan melalui media benda asli pada pengembangan Kognitif ini diharapkan mampu meningkatkan kreativitas anak. Dan untuk menunjang keberhasilan dari pembelajaran ini di antaranya adalah keuletan, yang disertai dengan sikap sabar dan teliti yang penuh rasa tanggung jawab dari guru dalam menghadapi anak didik.
Proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini hingga selesai dengan baik tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Maka dari itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman guru di TK Dharma Wanita 2 Kamulan yang telah banyak membantu dengan memberikan dukungan moril atas terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini, dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
Peneliti menyadari bahwa Karya Ilmiah ini belum sempurna, untuk itu tidak menutup kemungkinan saran dan kritik yang membangun agar dapat memberikan khazanah dalam Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama bagi dunia pendidikan. Amin….

Kamulan , April 2014
Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………
PENGESAHAN……………………………………………………… ………
KATA PENGANTAR………………………………………………………..
DAFTAR ISI…………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………
B. Identifikasi Masalah…………………………………………………..
C. Analisis Masalah………………………………………………………
D. Rumusan Masalah…………………………………………………….
E. Tujuan Penelitian………………………………………………………..
F. Manfaat Penelitian……………………………………………………
BAB II KAJIAN PUSTAKA…………………………………………………..
A. Pengertian Motorik Halus…………………………………………….
B. Metode Demonstrasi dan Pemberian Tugas………………………….
C. Media…………………………………………………………………
D. Kolase…………………………………………………………………
E. Hipotesis……………………………………………………………….
BAB III METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN……………………
A. Metode Penelitian…………………………………………………….
B. Deskripsi Penelitian…………………………………………………..
1. Perencanaan…………………………………………………
2. ` Pelaksanaan Penelitian………………………………………
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………………
A. Hasil Penelitian………………………………………………………
B. Dampak Penelitian…………………………………………………..
C. Kendala Penelitian…………………………………………………..
D. Faktor-faktor Pendukung……………………………………………
E. Alternatif Pengembangan……………………………………………
F. Pembahasan………………………………………………………….
BAB V PENUTUP………………………………………………………….
A. Kesimpulan…………………………………………………………..
B. Saran dan Tindak Lanjut…………………………………………….
C. Rekomendasi Operasional……………………………………………

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Taman Kanak-Kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan jalur formal yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun sebelum memasuki pendidikan Dasar (Undang-Undang No. 20 tahun 2003).
Usia 4 – 6 tahun merupakan masa peka bagi anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak-anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.
Peran pendidik (orang tua, guru dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi anak 4-6 tahun. Upaya pengembangan harus dilakukan melalui bermain dan sebanyak mungkin mengenal benda nyata. Dengan bermain dan mengenal benda nyata anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Selain bermain membantu anak mengenal dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya.
Dalam mengembangkan diri anak didik di TK tersebut memerlukan dukungan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana seperti alat peraga/ alat permainan, perabot kelas, ruang kegiatan/ bermain program-program pengembangan yang memadai, serta suasana pendidikan yang menunjang. Idealnya berbagai fasilitas, sarana dan prasarana perlu tersedia secara lengkap di TK, agar penyelenggaraan pelayanan pendidikan bagi anak didik di TK yang bersangkutan dapat benar-benar berjalan baik. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik dapat tercapai secara baik dan benar.
Sejalan dengan hal ini, maka faktor guru dalam proses pembelajaran sangatlah menentukan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh guru adalah mengenai alat peraga bermain mengenal benda nyata sebagai sarana untuk membangkitkan motivasi anak dalam aktivitas. Sarana yang dimaksud dalam hal ini alat/ media peraga/ bermain yang digunakan dalam belajar yang pengadaannya tidak perlu harus dibeli, tetapi dapat diadakan/ dibuat oleh guru dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu guru dituntut untuk lebih kreatif dalam membuat atau menciptakan sendiri alat peraga/ bermain diperlukan dalam pembelajaran dengan memanfaatkan bahan yang ada di lingkungan sekitar dengan memperhatikan tahap perkembangan anak didik.
Setiap anak di dunia ini memiliki kecerdasan dalam tingkat dan indikator yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak, pada hakekatnya, adalah cerdas. Perbedaan terletak pada tingkatan dan indikator kecerdasannya. Perbedaan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah rangsangan yang diberikan pada saat anak masih berusia dini.
Ada banyak definisi kecerdasan, meskipun para ahli merasa sulit mendefinisikannya. Kecerdasan dapat dilihat dari berbagai pendekatan, yakni pendekatan teori belajar, pendekatan teori neurobiologis, pendekatan teori psikometri, dan teori perkembangan.
Menurut pendekatan psikometris, kecerdasan dipandang sebagai sifat psikologis yang berbeda pada setiap individu. Kecerdasan dapat diperkirakan dan diklasifikasi berdasarkan tes intelegensi. Tokoh pengukuran intelegensi Alfred Binet mengatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan yang terdiri dari tiga komponen yakni (1) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, (2) kemampuan untuk mengubah arah pikiran atau tindakan, (3) kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan diri sendiri atau autocritism. Menurutnya, intelegensi merupakan sesuatu yang fungsional sehingga tingkat perkembangan individu dapat diamati dan dinilai berdasarkan kriteria tertentu.
Atas dasar uraian diatas anak kelompok B seharusnya memiliki kemampuan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan dengan baik. Namun pada kenyataannya di TK Dharma Wanita 2 Kamulan anak kelompok B kemampuan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan masih belum optimal.
Belum optimalnya kemampuan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
(1) Strategi mengajar guru/ pendidik membosankan anak
(2) Alat peraga kurang menarik
(3) Perilaku anak ribut malas dan kurang berani dalam kegiatan
Berdasarkan beberapa penyebab tersebut maka penulis selaku guru berupaya untuk melakukan perbaikan pembelajaran agar standar kompetensi dapat tercapai dengan baik yaitu untuk meningkatkan kemampuan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli sampai 10.

B. Identifikasi Masalah
Seperti yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas masalah yang diidentifikasikan adalah :
a. Bahan ajar / media yang digunakan kurang menarik minat anak.
b. Metode yang digunakan kurang tepat, sehingga pada waktu kegiatan berlangsung anak-anak cenderung bosan
c. Perilaku anak yang ribut dan kurang berani dalam mengeluarkan pendapat
d. Guru kurang memberi dorongan dan semangat pada anak sehingga hasil akhir kegiatan kurang memuaskan
e. Kemampuan anak dalam menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan sangat kurang

C. Analisis Masalah
Dari kelima masalah yang teridentifikasi, masalah yang akan dipecahkan adalah poin kelima yaitu kurangnya kemampuan anak dalam menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan hal ini disebabkan metode yang dipilih kurang tepat sehingga penjelasan langkah kegiatan pembelajaran yang diberikan kurang sesuai dengan tingkat perkembangan anak Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan berbagai pendekatan, teknik, dan metode bervariasi
D. Rumusan Masalah
Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak dengan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan melalui media benda asli sampai 10 di kelompok B TK Dharma Wanita 2 Kamulan kecamatan Durenan kabupaten Trenggalek ?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak dengan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan melalui media benda asli sampai 10 di kelompok B TK Dharma Wanita 2 Kamulan .

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi anak
Meningkatkan hasil belajar anak
2. Manfaat bagi guru
– Meningkatkan kemampuan guru sebagai fasilitator dan motivator
– Memberikan gambaran pada Guru tentang cara pembelajaran yang efektif ,efisien dan menyenangkan
3. Manfaat bagi sekolah
Meningkatkan kualitas mutu TK yang bersangkutan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Perkembangan Kognitif
1. Teori Perkembangan Kognitif
Tahapan-tahapan perkembangan intelektual yang dirumuskan oleh Jean Piaget (dalam Asih, Siti, 2007: 5.3) adalah perkembangan intelektual yang berhubungan dengan otak. Otak manusia tidak berkembang sepenuhnya hingga akhir masa adolesen, bahkan otak laku-laki kadang-kadang tidak berkembang sepenuhnya hingga awal dewasa. Kita sering kali membuat kesalahan dengan mengharapkan anak dapat berpikir seperti orang dewasa. Oleh karena itu, orang tua dan pendidik perlu memahami apa yang dapat diharapkan dari seorang anak secara realistis ketika ia berada dalam masa perkembangannya menuju dewasa.
Pieget mulai studinya dengan mengamati secara hati-hati ketiga anaknya yang masih bayi, meliputi pengamatan tentang bagaimana mereka mengekspresikan mainan-mainan baru, memecahkan masalah sederhana yang diberikan kepada mereka, dan secara umum sampai pada pemahaman mengenai diri mereka sendiri dan dunia mereka. Piaget menggunakan sampel yang lebih besar dengan menggunakan metode klinis dan menggunakan pertanyaan dan jawaban yang fleksibel. Metode klinis ini digunakan dalam rangka menemukan bagaimana anak dari usia yang berbeda memecahkan berbagai masalah dan bagaimana pemikiran mereka tentang masalah sehari-hari. Dari pengamatan yang bersifat alami terhadap anak-anaknya sendiri serta penggunaan metode klinis untuk sampel yang lebih luas, Piaget merumuskan teori perkembangan kognitif anak dari pertumbuhan intelektualnya.
Piaget telah mengidentifikasi 4 periode utama dalam perkembangan kognitif, yaitu periode sensorimotor (lahir 2 tahun), periode praoperasional (2-7 tahun), periode operasional konkret (7-11 tahun), dan periode operasi formal (11 tahun ke atas). Tahap-tahap pertumbuhan intelektual menunjukkan tingkat kualitas yang berbeda dari fungsi dan bentuk kognitif yang disebut Tahap Perkembangan Invarian, yaitu semua anak mengalami kemajuan melalui tahap-tahap dalam urutan yang persis sama, tanpa pernah melewati/ meloncati suatu tahap. Piaget berargumen bahwa tahap-tahap intelektual adalah tetap, atau invariant, namun dia menemukan bahwa ada perbedaan individual yang besar pada tahun dimana anak masuk atau muncul dari suatu tahap tertentu. Pada kenyataannya, menurut pandangannya faktor-faktor budaya dan pengaruh lingkungan lainnya mungkin mempercepat atau memperlambat rentangan pertumbuhan intelektual anak.

2. Konsep Perkembangan Matematik (kognitif) pada AUD
Dalam perkembangan ini anak akan mengkontruksi arti dan membuat asosiasi yang dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya melalui interaksi langsung dengan objek konkret. (Kamii, 1982 dalam Fridani, Lara : 3.34) memperlajari konsep Piaget dan mengaplikasikannya dalam bidang matematika untuk anak usia dini. Belajar berhitung, membaca dan menulis angka untuk anak usia dini memang baik, namun tujuan yang lebih penting dari itu adalah agar anak dapat mengkontruk struktur mental dari angka-angka tersebut. Mengajarkan anak tentang angka dapat dilakukan dengan mengajarkannya secara tidak langsung dengan melibatkan lingkungannya. Misalnya meminta anak membagikan sendok pada teman-temannya, masing-masing satu sendok. Ketika anak melakukan aktivitas tersebut, guru mengamati dan melakukan pencatatan terhadap pengetahuan matematika anak.
Dalam melihat perkembangan kognitif anak, yaitu dengan mengamati dan melakukan asesmen intelektual pada anak, kita harus memperhatikan bukan saja pengetahuan anak terhadap suatu bidang, tetapi juga perlu memperhatikan dimensi perkembangan anak lainnya. Belajar bukan hanya merupakan kumpulan pengetahuan dan keterampilan dan kemampuan individu, tetapi juga merupakan disposisi, habitsof the mind. Hal ini berarti mencakup bagaimana anak merespon pengalaman tertentu. Disposisi, perasaan ataupun respons emosi anak terhadap matematika dan sains juga perlu menjadi pertimbangan para guru.
Keterampilan proses sains memiliki kesamaan dengan asesmen otentik tentang perkembangan anak, yaitu meliputi beberapa kegiatan : mengamati, membandingkan, mengelompokkan, mengukur, mengkomunikasikan, menyimpulkan dan memprediksi.
Jean Piaget (1896-1980) dalam buku kurikulum PAUD hal 2.31 mengembangkan teori kognitif (cognitive theory) yang terdiri dari : pertama, keterlibatan anak secara aktif dengan lingkungan fisik melalui pengalaman langsung, kedua, perkembangan intelektual berkembang terus menerus, ketiga, anak sudah memiliki motivasi dalam diri untuk mengembangkan intelektual. Menurut Piaget, melalui proses adaptasi dengan lingkungan perkembangan intelektual anak berkembang.

3. Mendorong Perkembangan Kognitif
Anak belajar banyak melalui dirinya sendiri, tetapi ia sering memerlukan pertolongan untuk memadukan apa yang dipelajarinya sehingga tercipta konsep yang lebih kompleks/ rumit. Untuk itulah guru/ pendidik perlu mengatur kegiatan yang terpusat pada anak dalam mengembangkan dan memproses kemampuan berpikirnya spesifik. Anak perlu ditawari berbagai kegiatan untuk bermain menjelajah lingkungan, lebih banyak merespon pada rangsangan dalam lingkungan dengan cara sangat membangun/ konstruktif yaitu ketika ia megorganisir informasi di dalam otaknya dalam pola yang dapat diprediksi (diperkirakan) sejak usia yang sangat dini.
Sebagaimana anak sekeliling mereka lebih banyak pengalaman dari lingkungan/ dari dunia sekeliling mereka sering membutuhkan pertolongan dalam mengorganisir hasil belajar spesifik (terarah pada suatu konsep) Janice Beaty dalam Asiah, siti, dkk, 5.34.

BAB III
METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Pendidik yang kurang menguasai materi akan sulit mengajarkan pembelajaran. Pendidik harus bisa mencari metode yang tepat yang akan digunakan pada proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kejelian. Jadi seorang pendidik harus sabar dalam proses pembelajaran agar anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Metode demonstrasi adalah metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran karena pendidik tidak cukup hanya menjelaskan secara lisan saja, tetapi anak TK lebih mudah mempelajarinya dengan cara melihat dan memegang bendanya secara langsung. Dengan metode demonstrasi ini guru dapat menunjukkan, mengerjakan dan menjelaskan apa yang sedang dilakukan.
Bagi anak kecil, mempelajari literasi tidak cukup hanya dengan melihat tulisan-tulisan atau mendengarkan orang berbicara di sekelilingnya. Mereka perlu demonstrasi yaitu bagaimana orang dewasa berperilaku dan berbahasa. Mereka juga perlu melihat benda-benda dan bagaimana orang dewasa menyebut benda-benda tersebut.
Tugas guru adalah memberikan demonstrasi di setiap kegiatan yang melibatkan anak dalam kegiatan literasi. Sepanjang siang guru berbicara kepada anak dalam kegiatan literasi sebenarnya sudah merupakan demonstrasi yang baik asalkan diikuti oleh perilaku atau penunjukkan benda-benda, dengan demikian anak-anak dapat mengamati dan pada akhirnya akan memahami hubungan bahasa dengan perilaku dan benda-benda yang mereka lihat.
Karena anak mempunyai sikap yang senang meniru maka metode demonstrasi adalah metode yang tepat untuk anak. Dengan metode demonstrasi anak dapat langsung meniru apa yang diperagakan guru, dengan bimbingan guru. Bimbingan guru yang sabar dan telaten sangat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak terutama pada kegiatan kolase.
Kepekaan anak dalam menerima stimulus atau rangsangan dari luar yang harus diserap melalui panca indra setiap anak berbeda-beda. Ada yang kepekaannya tajam, ada yang tidak tajam. Pengembangan kognitif adalah salah satu yang dapat mengembangkan kepekaan. Melalui pengembangan kognitif pada anak usia dini diharapkan anak dapat menangkap rangsangan serta dapat dengan cepat dan terampil menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli yang bermanfaat sebagai sarana, proses untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya. Metode demonstarasi dan pemberian tugas serta dengan menggunakan media yang menarik dapat meningkatkan minat anak dalam kegiatan anak. Benda- benda yang digunakan yaitu benda asli sesuai dengan tema agar memudahkan anak dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Kegiatan pra pengembangan merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum memulai kegiatan demonstrasi. Kegiatan pra pengembangan terdiri atas:
1. Kegiatan penyiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk menunjukkan, mengerjakan, menjelaskan secara terpadu, dalam demonstrasi sesuai dengan tujuan dan tema yang sudah ditetapkan dan sesuai dengan urutan langkah-langkah demonstrasi yang sudah ditetapkan.
2. Kegiatan penyiapan bahan dan alat untuk menirukan pekerjaan seperti yang dicontohkan guru dalam demonstrasi.
3. Kegiatan penyiapan anak dalam mengikuti kegiatan demonstrasi dan diikuti peniruan anak.
4. Guru menjelaskan sambil memperagakan cara penjumlahan dan pengurangan tahap demi tahap sambil diikuti anak.
Rancangan metode demonstrasi diharapkan dapat:
a. Meningkatkan kemampuan melihat dan mendengarkan secara cermat dan teliti sesuai dengan tujuan dan tema yang ditetapkan.
b. Kemampuan menirukan suatu pekerjaan secara teliti, cermat dan tepat.
c. Kemampuan imitasi atau identifikasi perilaku secara tepat.
Semua anak mempunyai bakat atau potensi, dan tidak sama antara anak yang satu dan yang lainnya. Untuk mencapai anak menjadi terampil dan kreatif, maka harus diarahkan oleh guru melalui pembinaan kreativitas di antaranya adalah kegiatan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan media benda asli dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas.
B. Deskripsi Penelitian
Tahapan Operasional Pelaksanaan:
1. Perencanaan
– Merumuskan tujuan perbaikan yaitu bagaimana cara meningkatkan kognitif anak dengan metode menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan melalui media benda asli sampai 10 bagi siswa kelompok B di TK Dharma Wanita 2 kamulan kecamatan Durenan kabupaten Trenggalek
• Membuat Rencana kegiatan harian (RKH)
– Mengadakan diskusi dengan teman sejawat tentang permasalahan kemampuan konitif anak dalam kegiatan pembelajaran dengan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan melalui media benda asli.
– Merencanakan pengelolaan kelas
– Merencanakan langkah-langkah kegiatan perbaikan
– Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan untuk mendemonstrasikan
• Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan anak untuk meniru contoh yang dilakukan guru
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Kemampuan yang diharapkan (dicapai): dapat menyebutkan hasil dari penjumlaham dam pengurangan melalui media benda asli sampai 10
b. Tema : Tanaman
c. Kegiatan : menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan media benda asli sampai 10
d. Metode : Demonstrasi dan pemberian tugas
e Sarana/alat :
1. biji bijian asli (jagung , kedelai )
2. gelas bekas minum anak
Langkah-langkah pelaksanaan demonstrasi dan pemberian tugas dalam kegiatan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli adalah:
– Guru menyiapkan media/alat yang akan digunakan mendemonstrasikan kegiatan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli
– Guru membagikan jagung dan kedelai kepada masing-masing anak yang akan digunakan untuk meniru contoh guru
– Selanjutnya guru mendemonstrasikan cara menghitung dengan memesukkam biji kedalam gelas tahap demi tahap dan siswa diminta untuk mengikutinya
– Guru mengawasi anak yang sedang melaksanakan kegiatan
– Guru membimbing anak yang mengalami kesulitan dalam membuat kolase dengan pasir berwarna
– Guru mengevaluasi hasil kegiatan anak

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil dari metode demonstrasi dan pemberian tugas yang telah diterapkan pada proses pembelajaran menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli
a. Perhatian anak lebih dipusatkan pada guru
b. Meningkatkan kemampuan matematika permulaan pada anak TK kelompok B
c. Anak lebih mengerti dan paham cara menyebutkan hasil penjumlahan pengurangan yang benar
d. Penggunaan media benda asli dapat menarik dan menambah minat anak pada kegiatan menyebut hasil penjumlahan dan pengurangan
e. Benda asli memudahkan anak dalam mengerjakan tugas
f. Koordinasi tangan anak lebih baik dan lebih terlatih
Dari perencanaan dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan oleh guru pada kegiatan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan media benda asli didapatkan anak mampu mengenal matematika permulaan dengan baik .
B. Dampak Penelitian
a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda / peristiwa yang akan dipertunjukkan karena jumlah anak yang banyak dalam satu kelas atau alat yang terlalu kecil sehingga metode demonstrasi hanya efektif untuk sistem kelompok dan kurang efektif apabila menggunakan sistem klasikal.
b. Tidak semua benda/peristiwa dapat didemonstrasikan
c. Sukar dimengerti apabila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan
d. Apabila tidak dilanjutkan dengan pemberian tugas ada kemungkinan anak akan lupa dan materi belajar tidak akan bermakna karena tidak menjadikan pengalaman belajar bagi anak
C. Kendala Penelitian
a. Membutuhkan waktu yang lama
b. Media harus banyak agar dapat dibagikan kepada anak
c. Membutuhkan guru yang profesional
d. Membutuhkan kesabaran dan ketelatenan
e. Anak yang tidak sabar ingin cepat menyelesaikan kegiatan sehingga demonstrasi kurang maksimal
D. Faktor-faktor Pendukung
Untuk keberhasilan dalam menerapkan metode demonstrasi perlu faktor pendukung agar metode yang digunakan dapat terlaksana dengan baik. Faktor pendukung itu antara lain:
a. Seorang guru yang profesional dan menguasai materi pembelajaran
b. Media benda asli yang digunakan membuat anak merasa senang
c. Media yang digunakan untuk demonstrasi harus mencukupi semua anak
E. Alternatif Pengembangan
Kegiatan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan behda asli merupakan bagian dari pengembangan kognitif yaitu indikator menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan berbagai media. Alternatif pengembangan kognitif ini selain meningkatkan ketrampilan anak juga dapat melatih emosi anak agar lebih sabar dalam melakukan suatu kegiatan. Dapat juga dipergunakan untuk memberikan ilustrasi dalam menjelaskan informasi kepada anak suatu kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan dengan benda asli dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan daya pikir anak dalam meningkatkan kemampuan mengenal, mengingat, dan berpikir.
F. Pembahasan
Salah satu bentuk satuan pendidikan prasekolah di jalur pendidikan sekolah adalah Taman Kanak-kanak. Eksistensi dan esensi lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak ini dalam kerangka pembangunan Pendidikan Nasional secara resmi diakui dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 tahun 1990. Menurut PP No. 27 tahun 1990, “Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak dimaksudkan untuk membantu meletakkan dasar kea rah perkembangan sikap, perilaku, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.”
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini mampu meningkatkan kemampuan anak dalam menyebutkan penjumlahan dan pengurangan dengan berbagai media. Adanya pembelajaran ini, anak dapat melatih kemampuan kognitif anak dan mengembangkan kreativitas anak. Selain itu, guru pun dapat mengetahui apakah anak sudah mampu untukmengenal matematika permulaan , dan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap penjumlahan dan pengurangan dengan berbagai media. Tindakan ini hanya dilakukan dalam satu hari, karena tujuan yang diinginkan telah tercapai dan kemampuan anak mengalami peningkatan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam proses pembelajaran interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa. Dalam interaksi tersebut guru berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Berdasarkan pelaksanaan penelitian yang dilakukan pada pengembangan seni dan fisik motorik halus kegiatan kolase dengan berbagai media melalui metode demonstrasi dan pemberian tugas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dengan metode yang tepat dapat memudahkan anak untuk memahami pembelajaran menyebut hasil penjumlahan dam pengurangan dengan baik
2. Dengan pemilihan alat peraga yang tepat, membantu anak pada saat pembelajaran
3. Kemampuan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan anak-anak TK kelompok B sudah cukup optimal / baik sesuai dengan yang diharapkan.
B. Saran dan Tindak lanjut
Berdasarkan hasil kesimpulan, ada beberapa hal yang sebaiknya diterapkan oleh guru dalam meningkatkan kualitas mengajarnya, khususnya dalam pengembangan kognitif anak dengan berbagai media. Adapun saran-saran penulis sebagai berikut:
1. Gunakanlah alat peraga yang tepat dan menarik sesuai dengan materi kegiatan sehingga pembelajaran dapat menghasilkan hasil belajar yang optimal
2. Dalam memberikan tugas pada anak terlebih dahulu guru harus memperkenalkan media yang akan digunakan, dan gunakanlah media yang menarik bagi anak sehingga anak antusias terhadap kegiatan yang akan dilakukan. Dengan demikian akan membantu kemampuan anak
3. Lihatlah emosi dan perasaan anak, jangan biarkan anak berebut, tapi untuk mencoba bersama. Buatlah kelompok kecil agar anak maksimal dapat mencoba semua secara bergantian dengan teratur.
4. Fasilitas dalam pembelajaran sangat diperlukan guna memotivasi anak dalam menumbuhkan kemampuan anak.
5. Pemberian nilai itu sangat penting, di samping sebagai hadiah, juga dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan belajar serta sebagai laporan untuk orang tua di rumah.
6. Segala sesuatu yang diperoleh selama kegiatan PTK yang sekiranya dapat meningkatkan kemampuan anak, sebaiknya disampaikan kepada teman-teman sejawat atau Kelompok Kerja Guru (KKG). Sehingga teman yang lain mendapatkan masukan terhadap strategi mengajarnya.

C. Rekomendasi Operasional
Penerapan metode demonstrasi dalam kegiatan menyebutkan hasil penjumlahan dan pengurangan perlu direncanakan lebih dulu agar dapat mencapai tujuan dan dapat berjalan dengan baik. Dalam satu rancangan pembelajaran bermetode demonstrasi dan pemberian tugas dapat dikembangkan satu atau beberapa aspek perkembangan sekaligus, misalnyamotorik halus , bahasa dan seni. Karena pada dasarnya pengembangan dasar dan perilaku dengan metode demonstrasi bersifat integral dan tidak parsial.
Itulah beberapa kesimpulan, saran dan rekomendasi opersional yang dapat penulis sampaikan, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi rekan-rekan guru seprofesi pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Asmawati, Luluk, dkk. 2008. Pengelolaan Keiatan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta. Universitas Terbuka.

Gunarti, Winda, Lilis Suryani, Azizah Muis. 2008. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta. Universitas Terbuka.

Pamadhi, Hajar. 2008. Seni Keterampilan Anak. Jakarta. Universitas Terbuka.

BEST PRACTICE

LOMBA PENULISAN BEST PRACTICE GURU
Guna meningkatkan motivasi guru dalam menulis dan menyebarluaskan pengalaman terbaiknya, Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependididan Pendidikan Menengah mangadakan lomba penulisan “Best Practice Guru.” Tulisan pengalaman terbaik (Best Practice) guru adalah tulisan yang dibuat guru yang berisi laporan uraian pengalaman nyata guru dalam memecahkan berbagai masalah pelaksanaan pembelajaran dan/atau masalah pengelolaan yang ada di kelas (bagi guru) atau di satuan pendidikan (bagi kepala sekolah). Tulisan merupakan pengalaman nyata guru, bukan pengalaman orang lain, saduran, terjemahan atau plagiasi.
Prosedur Penulisan Best Practice
1.Peserta kegiatan ini adalah guru/kepala sekolah pendidikan menengah.
2.Penulisan laporan Best Practice dilakukan perseorangan.
3.Kelengkapan yang harus dikirim kepada panitia:
– Laporan tertulis sebanyak 2 (dua) eksemplar.
– Naskah sajian (print-out) presentasi yang berupa tayangan PowerPoint,
dengan jumlah slide sekitar 10-20 buah.
– CD yang berisi laporan lengkap dalam format MS. Word dan juga berisi
naskah presentasi dalam bentuk PowerPoint.
Aturan dan Kerangka Penulisan
1.
Pengalaman terbaik (Best Practice) guru diketik dengan menggunakan
huruf ARIAL font 12, spasi 1,5, menggunakan kertas ukuran A4 70 gr,
tidak bolak-balik.
2.
Jarak pengetikan bagian atas 3,0 cm dan bawah 2,5 cm,
bagian tepi kiri 3,0 cm dan kanan 2,5 cm. Setiap halaman
diberi nomor halaman.
3.
Naskah dijilid rapi dengan menggunakan sampul soft cover
berwarna MERAH dan format sesuai dengan yang tersaji dalam lampiran.
Semua lampiran, harus dijilid menjadi satu kesatuan dengan laporannya
(tidak disajikan secara terpisah).
4.Kerangka isi penulisan diatur sebagai berikut.
Bagian Awal terdiri atas:
(a) halaman judul;
(b) lembaran pengesahan;
(c) kata pengantar;
(d) daftar isi,
(e) abstrak atau ringkasan; serta
(f). daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran (bila ada).
Lembar persetujuan ditandatangani Koordinator Pengawas
bila yang menyusun adalah pengawas dan ditandatangani
Pejabat Dinas Pendidikan bila yang menyusun adalah koordinator
pengawas.
Bagian Isi terdiri atas beberapa bab.
(a) Bab Pendahuluan menjelaskan latar belakang, permasalahan,
tujuan, dan manfaat.
(b) Bab Kajian tentang Pembahasan dan Pemecahan Masalah
yang menguraikan langkah-langkah atau cara-cara dalam
memecahkan masalah yang dituangkan secara rinci.
Hal yang sangat perlu dituliskan adalah bagaimana tindakan,
cara, langkah yang dilakukan oleh pengawas sekolah
sehingga kegiatan tersebut dinyatakan sebagai pengalaman
terbaiknya dalam memecahkan masalah dan juga
dihubungkan dengan teori akademik yang menunjang.
Semua uraian tentang pelaksanaan tindakan yang telah
dilakukan harus didukung (dilampirkan) dengan data yang benar.
Hal yang sangat perlu disajikan pada bab ini adalah keaslian
dan kejelasan ide/gagasan terkait dengan upaya pemecahan masalah.
Uraian ini merupakan inti tulisan Best Practice.
(c) Bab Simpulan dan Saran
berisi uraian tentang hal-hal yang dapat dipetik sarinya dari
pengalaman berharga tersebut. Simpulan diikuti dengan saran
atau rekomendasi terhadap pihak terkait dengan
pemecahan masalah tersebut.
Bagian Penunjang berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran
yang menunjang tulisan tersebut.
Sajian lampiran dimaksudkan sebagai bukti penunjang kegiatan
yang ditulis itu benar-benar merupakan hal nyata yang telah dilakukan.
Salam

GURU TAMAN KANAK KANAK

KARYA TULIS ILMIAH

JUDUL
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN KOLASE
ANAK TK DW 2 KAMULAN KELOMPOK B MELALUI METODE DEMONSTRASI DAN PEMBERIAN TUGAS
DENGAN MEDIA PASIR BERWARNA

Disusun Untuk Memenuhi Seleksi Guru Berprestasi

Oleh : ZULATIPAH, S. Pd
TK DHARMA WANITA 2 KAMULAN

KECAMATAN DURENAN
KABUPATEN TRENGGALEK
JAWA TIMUR
TAHUN 2013
PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Upaya Peningkatan Kemampuan Motorik Halus (Kolase) Anak TK Kelompok B Melalui Penerapan Metode Demonstrasi dan Pemberian Tugas Dengan Media Pasir berwarna” telah disahkan dalam penyeleksian Guru Berprestasi Tingkat Kecamatan durenan di UDPK Kecamatan Durenan pada hari sabtu, tanggal 06 April 2013 M
Karya Tulis ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memenuhi seleksi Guru Berprestasi tahun 2013.

Kamulan, 06 April 2013

Kepala TK Penulis

ZULATIPAH,S.Pd ZULATIPAH, S. Pd

Mengetahui
Kepala Unit Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kecamatan Durenan

PURWITOYO, S. Pd
NIP:196006271983031015

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan naskah Karya Tulis Ilmiah tanpa halangan suatu apapun.
Maksud penyusunan naskah ini adalah untuk memenuhi seleksi Guru Berprestasi 2013. Karya Tulis Ilmiah ini merupakan hasil penelitian di Taman Kanak-kanak dan merupakan harapan bagi setiap guru TK untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak TK, di antaranya pembuatan kolase, di mana pembelajaran melalui penerapan metode demonstrasi dan pemberian tugas pada pengembangan seni ini diharapkan mampu meningkatkan kreativitas anak. Dan untuk menunjang keberhasilan dari pembelajaran ini di antaranya adalah keuletan, yang disertai dengan sikap sabar dan teliti yang penuh rasa tanggung jawab dari guru dalam menghadapi anak didik.
Proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini hingga selesai dengan baik tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Maka dari itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman guru di TK Dharma Wanita 2 Kamulan yang telah banyak membantu dengan memberikan dukungan moril atas terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini, dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
Peneliti menyadari bahwa Karya Ilmiah ini belum sempurna, untuk itu tidak menutup kemungkinan saran dan kritik yang membangun agar dapat memberikan khazanah dalam Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama bagi dunia pendidikan. Amin….

Kamulan , April 2013

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN

JUDUL……………………………………………………………………………………………………………… i
PENGESAHAN……………………………………………………… ……………………………………………. ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………….. iii
DAFTAR ISI………………………………………………………………… ……………………………………… iv
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………….. ………………………… 6
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………… ………………………….. 6
B. Identifikasi Masalah………………………………………………………………………………… 6
C. Analisis Masalah…………………………………………………………………… . ……………… 7
D. Rumusan Masalah……………………………………………………………………….. ………… 7
E. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………………. . 7
F. Manfaat Penelitian…………………………………………………… ……………………………. 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA……………………………………………………………………………………. 8
A. Pengertian Motorik Halus……………………………………………. ……………………….. .. 8
B. Metode Demonstrasi dan Pemberian Tugas…………………………………………….. 8
C. Media………………………………………………………………… ………………………………….. 9
D. Kolase……………………………………………………………………………………………………… 9
E. Hipotesis………………………………………………………………………………………………… 10
BAB III METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN…………………………………………….. 11
A. Metode Penelitian……………………………………………………………………………………. 11
B. Deskripsi Penelitian………………………………………………………………………………….. 12
1. Perencanaan……………………………………………………………………………………. 12
2. Pelaksanaan Penelitian…………………………………………………………………….. 13
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………………………………………………. 14
A. Hasil Penelitian……………………………………………………… ……………………………….. 14
B. Dampak Penelitian…………………………………………………………………………………… 14
C. Kendala Penelitian…………………………………………………………………………………… 14
D. Faktor-faktor Pendukung…………………………………………… …………………………… 15
E. Alternatif Pengembangan………………………………………………………………………… 15
F. Pembahasan…………………………………………………………. ……………………………….. 15

BAB V PENUTUP………………………………………………………………………………………………… 16
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………… 16
B. Saran dan Tindak Lanjut……………………………………………. …………………………… 16
C. Rekomendasi Operasional……………………………………………………………………….. 17

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………. 18
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembuatan kolase merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran di TK untuk meningkatkan perkembangan motorik halus anak, sehingga dengan kegiatan membuat kolase anak-anak dapat melatih kesabaran, ketelitian, kejelian, kebersamaan, dan terutama melatih koordinasi gerak tangan. Koordinasi gerak tangan anak perlu dilatih agar gerakan tangan anak terbiasa dengan hal-hal baik.
Apabila dilihat dari fisiknya, kerajinan kolase ditinjau dari seni rupa tidak banyak kita temukan mengenai ungkapan ekspresinya. Bahkan pengerjaan kolase lebih mengutamakan ketrampilan fisik tentang kerja yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, kejelian dan paling utama ketrampilan.
Berdasarkan pengamatan di kelas dalam kegiatan kolase anak-anak TK sebagian besar mengalami kesulitan, dan anak-anak merasa bosan dengan kegiatan kolase, sehingga hasil pembuatan kolase pun tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Pada umumnya anak-anak usia TK menyukai sesuatu yang indah dan menarik. Oleh sebab itu agar anak-anak menyukai kegiatan kolase dan tidak kesulitan dalam pembuatan kolase, pendidik harus dapat menyediakan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat kolase, yaitu bahan yang disukai anak-anak. Bahan yang digunakan untuk membuat kolase di sekolah disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.
Untuk mewujudkan hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan kemampuan anak dan sesuai dengan tujuan pembelajaran dibutuhkan seorang guru yang profesional yang dapat menguasai materi pembelajaran dan mengerti karakteristik serta perkembangan anak. Dengan metode yang tepat dan media yang disukai anak juga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar anak dalam kegiatan kolase.

B. Identifikasi Masalah
Seperti yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas, masalah yang diidentifikasikan adalah:
1. Sebagian anak kesulitan dalam melakukan kegiatan kolase dengan berbagai media.
2. Keengganan anak melakukan kegiatan motorik halus dalam membuat kolase dengan berbagai m
Masalah kurangnya hasil belajar anak pada indikator tersebut disebabkan karena metode pembelajaran yang digunakan kurang tepat dan media yang digunakan kurang menarik. Masalah tersebut akan dicoba dipecahkan melalui penggunaan berbagai media dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas.
C Analisis masalah
Dari identifikasi masalah di atas, masalah yang akan dipecahkan adalah sebagian anak kesulitan dalam melakukan kegiatan kolase dengan berbagai media.
Masalah kurangnya hasil belajar anak pada indikator tersebut disebabkan karena metode pembelajaran yang digunakan kurang tepat dan media yang digunakan kurang menarik. Masalah tersebut akan dicoba dipecahkan melalui penggunaan berbagai media dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan analisis di atas, Rumusan Masalah yang ada adalah “Apakah dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas serta penggunaan media Pasir Berwarna dapat meningkatkan kemampuan membuat kolase anak di TK Dharma Wanita 2 Kamulan Kelompok B?.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan metode demonstrasi dan pemberian tugas dalam mengembangkan ketrampilan motorik halus (kolase) anak di TK Dharma Wanita 2 Kamulan Kelompok B.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi anak
Meningkatkan hasil belajar anak pada kegiatan kolase dengan berbagai media.
2. Manfaat bagi guru
a. Meningkatkan kemampuan Guru sebagai fasilitator dan motivator
b. Memberi gambaran pada Guru tentang cara pembelajaran membuat kolase
3. Manfaat bagi sekolah
Meningkatkan kualitas / mutu TK yang bersangkutan

7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Motorik Halus
Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot – otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih, tidak terlalu membutuhkan tenaga, akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat serta ketelitian. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret – coret, menyusun balok, menggunting, menulis, dan sebagainya. Perkembangan motorik ini sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal.
Perkembangan motorik halus anak Taman Kanak – kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus, dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang, bahkan hampir sempurna. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan, antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis / menggambar.

B. Metode Demonstrasi dan Pemberian Tugas

Menurut Muhibbin Syah, 2000 (dalam Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini), Metode Demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Menurut Moeslichatoen, 2004 (dalam Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini) hal – hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan tugas kepada anak adalah:
1. Pemberian tugas adalah proses integral dalam kegiatan pengembangan, maka tujuan tugas merupakan bagian penting sehingga tugas yang diberikan dapat dilakanakan dengan sebaik-baiknya.
2. Pemberian tugas tidak sekedar menyibukkan anak melainkan dapat memberikan sumbangan terhadap tujuan belajar yang diharapkan.
3. Pemberian tugas harus memberikan pengenalan kepada anak untuk bekerja dengan lebih baik.
4. Pemberian tugas harus menantang pengembangan kreativitas.
5. Pemberian tugas harus menumbuhkan kesadaran diri sendiri bukan untuk pendidik.
C. Media
Menurut Pamadhi, Hajar dan Sukardi S. Evan (2008) Media adalah bahan yang dapat digunakan untuk menuangkan gagasan seseorang seperti kertas, kanvas, kain, papan tripleks, haid barel, keramik, kaleng, plastik, spon, daun, pita, serta bahan yang lainnya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah komponen sumber belajar siswa yang dapat mendorong siswa untuk belajar, sehingga dapat mendorong anak untuk berimajinasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki melalui kegiatan bermain.
D. Kolase
Kolase berasal dari bahasa Perancis, yaitu “Coller” yang berarti lem / tempel, jadi bisa dikatakan Kolase adalah sebuah teknik menempel unsur-unsur yang berbeda (bisa berupa kain, kertas, kayu, dll) ke dalam sebuah frame sehingga menghasilkan sebuah karya seni yang baru.
Secara umum kolase adalah teknik menggabung beberapa objek menjadi satu. Tidak hanya asal jadi, tapi objek – objek itu harus mampu bercerita untuk menciptakan kesan tertentu.
Kolase merupakan perkembangan lebih lanjut dari seni lukis. Di mana pada awal abad ke-20 para perupa sering menambahkan (menempelkan) unsur-unsur yang berbeda ke dalam lukisan mereka seperti potongan-potongan kain, kayu ataupun kertas koran, namun memang ada perbedaan yang sangat signifikan antara seni kolase dan seni lukis. Di dalam karya seni kolase selain aspek formal seni yang dikedepankan meliputi nilai-nilai dasar keindahan, tata penyusunan objek ke dalam frame (layout), kontur, bentuk objek dan warna sebagaimana yang biasa disodorkan oleh karya seni lukis dan desain grafis tetapi juga aspek ilustratif yaitu meliputi aspek konten material dan bentuk gambar kolase itu sendiri.
Hal ini akan menimbulkan kesan yang berbeda dari penikmat seni / audience ketika mengapresiasi karya kolase, karena disodori keunikan yang ditimbulka olehpenyusunanmaterial-material yang berbeda di dalam sebuah frame karya seni, hal yang tidak dapat dijumpai dari seni lukis
Kolase sebagai karya seni dimulai oleh para pelukis beraliran KUBISME yaitu Georges Braque dan Pablo Picasso. Menurut Guggenheim Museum’s Braque mulai mengaplikasikan teknik kolase ke dalam lukisan arangnya dengan bahan-bahan yang diolah dari gulungan kayu oak dan potongan kertas. Sesaat setelah itu Picasso mulai mengikutinya dengan medium yang baru. Pada tahun 1912 dalam lukisan “Still Life with Chair Caning (Nature-morte á la chaise canée)”. Picasso mengaplikasikan potongan-potongan kertas minyak ke dalam kanvas.
Para seniman SUREALISME mulai mengembangkan teknik kolase itu sendiri dengan istilah CUBOMANIA, yaitu kolase yang dibuat dengan memotong gambar ke dalam kotak-kotak dan kemudian disusun ulang secara acak susunannya. Hal yang oleh Rene Paserson disebut INIMEDIA. Dan ada juga teknik kolase yang disebut etrécissements dengan tokohnya Richard Genovese dan Marcel Marien yang mengaplikasikan teknik robekan pada lapian atas lukisan sehingga memunculkan citra dari lapisan yang ada di bawahnya. Dewasa ini teknik ini lebih dikenal dengan teknik masking pada seni grafis.

E. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut : Melalui penggunaan media dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas dapat meningkatkan kemampuan motorik halus (kolase) anak Taman Kanak-kanak Dharma Wanita 2 Kamulan pada Kelompok B.

10
BAB III
METODE DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Pendidik yang kurang menguasai materi akan sulit mengajarkan pembelajaran kolase. Pendidik harus bisa mencari metode yang tepat yang akan digunakan pada proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran kolase memerlukan kesabaran, ketelitian, dan kejelian. Jadi seorang pendidik harus sabar dalam proses pembelajaran agar anak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Metode demonstrasi adalah metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran kolase karena pendidik tidak cukup hanya menjelaskan secara lisan saja, tetapi anak TK lebih mudah mempelajarinya dengan cara meniru seperti apa yag dilakukan oleh gurunya. Dengan metode demonstrasi ini guru dapat menunjukkan, mengerjakan dan menjelaskan apa yang sedang dilakukan.
Bagi anak kecil, mempelajari literasi tidak cukup hanya dengan melihat tulisan-tulisan atau mendengarkan orang berbicara di sekelilingnya. Mereka perlu demonstrasi yaitu bagaimana orang dewasa berperilaku dan berbahasa. Mereka juga perlu melihat benda-benda dan bagaimana orang dewasa menyebut benda-benda tersebut.
Tugas guru adalah memberikan demonstrasi di setiap kegiatan yang melibatkan anak dalam kegiatan literasi. Sepanjang siang guru berbicara kepada anak dalam kegiatan literasi sebenarnya sudah merupakan demonstrasi yang baik asalkan diikuti oleh perilaku atau penunjukkan benda-benda, dengan demikian anak-anak dapat mengamati dan pada akhirnya akan memahami hubungan bahasa dengan perilaku dan benda-benda yang mereka lihat.
Karena anak mempunyai sikap yang senang meniru maka metode demonstrasi adalah metode yang tepat untuk anak. Dengan metode demonstrasi anak dapat langsung meniru apa yang diperagakan guru, dengan bimbingan guru. Bimbingan guru yang sabar dan telaten sangat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak terutama pada kegiatan kolase.
Kepekaan anak dalam menerima stimulus atau rangsangan dari luar yang harus diserap melalui panca indra setiap anak berbeda-beda. Ada yang kepekaannya tajam, ada yang tidak tajam. Pendidikan kesenian adalah salah satu yang dapat mengembangkan kepekaan. Melalui ketrampilan seni rupa pada anak usia dini diharapkan anak dapat menangkap rangsangan serta dapat dengan cepat dan terampil mengolahkan menjadi hasil seni rupa yang berupa kerajinan kolase yang bermanfaat sebagai sarana, proses untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya. Metode demonstarasi dan pemberian tugas serta dengan menggunakan media yang menarik dapat meningkatkan minat anak dalam kegiatan anak. Kertas yang digunakan yaitu kertas yang agak tebal yang tidak mudah sobek agar memudahkan anak dalam melaksanakan kegiatan kolase.
Kegiatan pra pengembangan merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum memulai kegiatan demonstrasi. Kegiatan pra pengembangan terdiri atas:
1. Kegiatan penyiapan bahan dan alat yang akan digunakan untuk menunjukkan, mengerjakan, menjelaskan secara terpadu, dalam demonstrasi sesuai dengan tujuan dan tema yang sudah ditetapkan dan sesuai dengan urutan langkah-langkah demonstrasi yang sudah ditetapkan.
2. Kegiatan penyiapan bahan dan alat untuk menirukan pekerjaan seperti yang dicontohkan guru dalam demonstrasi.
3. Kegiatan penyiapan anak dalam mengikuti kegiatan demonstrasi dan diikuti peniruan anak.
4. Guru menjelaskan sambil memperagakan cara membuat kolase tahap demi tahap sambil diikuti anak.
Rancangan metode demonstrasi diharapkan dapat:
a. Meningkatkan kemampuan melihat dan mendengarkan secar cermat dan teliti sesuai dengan tujuan dan tema yang ditetapkan.
b. Kemampuan menirukan suatu pekerjaan secara teliti, cermat dan tepat.
c. Kemampuan imitasi atau identifikasi perilaku secara tepat.
Semua anak mempunyai bakat atau potensi, dan tidak sama antara anak yang satu dan yang lainnya. Untuk mencapai anak menjadi terampil dan kreatif, maka harus diarahkan oleh guru melalui pembinaan kreativitas di antaranya adalah kegiatan kolase dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas.
B. Deskripsi Penelitian
Tahapan Operasional Pelaksanaan:
1. Perencanaan
– Merumuskan tujuan perbaikan pengembangan kolase dengan menggunakan pasir berwarna pada anak TK Dharma Wanita 2 Kamulan kelompok B
• Membuat Rencana kegiatan harian (RKH)
– Mengadakan diskusi dengan teman sejawat tentang permasalahan kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan pembelajaran kolase dengan menggunakan pasir berwarna.
– Merencanakan pengelolaan kelas
– Merencanakan langkah-langkah kegiatan perbaikan
– Menyediakan alat dan bahan kolase dengan pasir berwarna yang akan digunakan untuk mendemonstrasikan
• Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan anak untuk meniru contoh yang dilakukan guru
2. Pelaksanaan Tindakan
KOLASE
a. Kemampuan yang diharapkan dicapai: dapat membuat kolase dengan berbagai media
b. Tema : Binatang
c. Kegiatan : Kolase
d. Metode : Demonstrasi dan pemberian tugas
e Sarana/alat :
1. Kertas buffalo yang telah diberi pola/gambar
2. Pasir Berwarna
3. Lem
Langkah-langkah pelaksanaan demonstrasi dan pemberian tugas dalam kegiatan kolase:
– Guru menyiapkan media/alat yang akan digunakan mendemonstrasikan kegiatan kolase yaitu kertas buffalo yang telah diberi pola/gambar untuk digunakan sebagai tempat menempel
– Guru membagikan pasir berwarna dan lem kepada masing-masing anak yang akan digunakan untuk meniru contoh guru
– Selanjutnya guru mendemonstrasikan cara membuat kolase dengan menempelkan pasir yang berwarna pada kertas tahap demi tahap dan siswa diminta untuk mengikutinya
– Guru mengawasi anak yang sedang melaksanakan kegiatan
– Guru membimbing anak yang mengalami kesulitan dalam membuat kolase dengan pasir berwarna
– Guru mengevaluasi hasil kegiatan anak

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Hasil dari metode demonstrasi dan pemberian tugas yang telah diterapkan pada proses pembelajaran kolase yaitu:
a. Perhatian anak lebih dipusatkan pada guru
b. Meningkatkan kemampuan kolase pada anak TK kelompok B
c. Anak lebih mengerti dan paham cara membuat kolase yang benar
d. Penggunaan media pasir yang berwarna cerah dan menarik menambah minat anak pada kegiatan kolase
e. Kertas yang tidak mudah sobek memudahkan anak dalam mengerjakan tugas
f. Koordinasi tangan anak lebih baik dan lebih terlatih
Dari perencanaan dan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan oleh guru pada pembuatan kolase dengan media pasir berwarna didapatkan hasil kolase media pasir berwarna yang diharapkan dan yang tidak di harapkan.
B. Dampak Penelitian
a. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda / peristiwa yang akan dipertunjukkan karena jumlah anak yang banyak dalam satu kelas atau alat yang terlalu kecil sehingga metode demonstrasi hanya efektif untuk sistem kelompok dan kurang efektif apabila menggunakan sistem klasikal.
b. Tidak semua benda/peristiwa dapat didemonstrasikan
c. Sukar dimengerti apabila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan
d. Apabila tidak dilanjutkan dengan pemberian tugas ada kemungkinan anak akan lupa dan materi belajar tidak akan bermakna karena tidak menjadikan pengalaman belajar bagi anak
C. Kendala Penelitian
a. Membutuhkan waktu yang lama
b. Media harus besar agar dapat terlihat anak lebih jelas
c. Membutuhkan guru yang professional
d. Membutuhkan kesabaran dan ketelatenan
e. Anak yang tidak sabar ingin cepat menyelesaikan kegiatan sehingga demonstrasi kurang maksimal
D. Faktor-faktor Pendukung
Untuk keberhasilan dalam menerapkan metode demonstrasi perlu faktor pendukung agar metode yang digunakan dapat terlaksana dengan baik. Faktor pendukung itu antara lain:
a. Seorang guru yang profesional dan menguasai materi pembelajaran
b. Media yang berwarna cerah dan berwarna-warni sehingga anak merasa senang
c. Media yang digunakan untuk demonstrasi harus besar
E. Alternatif Pengembangan
Kegiatan kolase merupakan bagian dari pengembangan seni yaitu indikator kolase dengan berbagai media. Alternatif pengembangan kolase selain meningkatkan ketrampilan anak juga dapat melatih emosi anak agar lebih sabar dalam melakukan suatu kegiatan. Dapat juga dipergunakan untuk memberikan ilustrasi dalam menjelaskan informasi kepada anak suatu kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan kolase dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan daya pikir anak dalam meningkatkan kemampuan mengenal, mengingat, dan berpikir.
F. Pembahasan
Salah satu bentuk satuan pendidikan prasekolah di jalur pendidikan sekolah adalah Taman Kanak-kanak. Eksistensi dan esensi lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak ini dalam kerangka pembangunan Pendidikan Nasional secara resmi diakui dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 tahun 1990. Menurut PP No. 27 tahun 1990, “Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak dimaksudkan untuk membantu meletakkan dasar kea rah perkembangan sikap, perilaku, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.”
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini mampu meningkatkan kemampuan anak dalam membuat kolase dengan berbagai media. Adanya pembelajaran ini, anak dapat melatih kemampuan motorik halus anak dan mengembangkan kreativitas anak. Selain itu, guru pun dapat mengetahui apakah anak sudah mampu untuk membuat kolase, dan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi kolase dengan berbagai media. Tindakan ini hanya dilakukan dalam satu hari, karena tujuan yang diinginkan telah tercapai dan kemampuan anak mengalami peningkatan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam proses pembelajaran interaksi antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa. Dalam interaksi tersebut guru berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Berdasarkan pelaksanaan penelitian yang dilakukan pada pengembangan seni dan fisik motorik halus kegiatan kolase dengan berbagai media melalui metode demonstrasi dan pemberian tugas, penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dengan metode yang tepat dapat memudahkan anak untuk memahami pembelajaran kolase dengan baik
2. Dengan pemilihan alat peraga yang tepat, membantu anak pada saat pembelajaran
3. Kemampuan pembuatan kolase anak-anak TK kelompok B sudah cukup optimal / baik sesuai dengan yang diharapkan.
B. Saran dan Tindak lanjut
Berdasarkan hasil kesimpulan, ada beberapa hal yang sebaiknya diterapkan oleh guru dalam meningkatkan kualitas mengajarnya, khususnya dalam pengembangan seni dan fisik motorik anak kolase dengan berbagai media. Adapun saran-saran penulis sebagai berikut:
1. Gunakanlah alat peraga yang tepat dan menarik sesuai dengan materi kegiatan sehingga pembelajaran dapat menghasilkan hasil belajar yang optimal
2. Dalam memberikan tugas pada anak terlebih dahulu guru harus memperkenalkan media yang akan digunakan, dan gunakanlah media yang menarik bagi anak sehingga anak antusias terhadap kegiatan yang akan dilakukan. Dengan demikian akan membantu kemampuan anak dalam membuat kolase agar lebih meningkat.
3. Lihatlah emosi dan perasaan anak, jangan biarkan anak berebut, tapi untuk mencoba bersama. Buatlah kelompok kecil agar anak maksimal dapat mencoba semua secara bergantian dengan teratur.
4. Fasilitas dalam pembelajaran sangat diperlukan guna memotivasi anak dalam menumbuhkan kemampuan kolase anak.
5. Pemberian nilai itu sangat penting, di samping sebagai hadiah, juga dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan belajar serta sebagai laporan untuk orang tua di rumah.
6. Segala sesuatu yang diperoleh selama kegiatan PTK yang sekiranya dapat meningkatkan kemampuan anak, sebaiknya disampaikan kepada teman-teman sejawat atau Kelompok Kerja Guru (KKG). Sehingga teman yang lain mendapatkan masukan terhadap strategi mengajarnya.

C. Rekomendasi Operasional
Penerapan metode demonstrasi dalam kegiatan kolase perlu direncanakan lebih dulu agar dapat mencapai tujuan dan dapat berjalan dengan baik. Dalam satu rancangan pembelajaran bermetode demonstrasi dan pemberian tugas dapat dikembangkan satu atau beberapa aspek perkembangan sekaligus, misalnya kognitif, bahasa dan seni. Karena pada dasarnya pengembangan dasar dan perilaku dengan metode demonstrasi bersifat integral dan tidak parsial.
Itulah beberapa kesimpulan, saran dan rekomendasi opersional yang dapat penulis sampaikan, semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri pada khususnya, dan bagi rekan-rekan guru seprofesi pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://smanemas.blogspot.com/2009/11kolase.html
http://eecho.wordpress.com/2008/10/29/apa-itu-kerangka-berpikir/
http://cokroaminoto.blogetery.com/2009/08/26/penyusunan-kerangka-teori-penelitian/
http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/26765/buku-latihan-teknik-kolase-photoshop-cs2.html
http://ayitarya.wordpress.com/2008/04/25/hipotesis/
http://episentrum.com/artikel-psikologi/perkembangan-motorik-anak-usia-dini/
http://asmamufidah.wordpress.com/category/pendidikan/
http://kreativitasanak.blogspot.com/
http://contohptkuntukgurutk.blogspot.com/
http://www.scribd.com/doc/37268444/null

SITUS RESMI ZULATIPAH SPd

Lihat pos aslinya

GURU TK DAN PAUD

Pendidikan anak usia dini
Menjadi Guru Paud/TK wajib mengerti tentang psikologi anak, setidaknya memahami sedikit saja agar bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya menjadi guru.Siapa anak usia dini itu, anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 6 tahun yang tercakup dalam program pendidikan di Taman Penitipan Anak, PAUD dan TK.
Anak usia dini memiliki karakterisitik yang meliputi seperti :
1.Memiliki rasa ingin tahu yang besar
2.Merupakan ribadi yang unik
3.Suka berfantasi dan berimajinasi
4.Masa paling potensial untuk belajar
5.Menunjukkan sikap egosentris
6.Memiliki rentang daya akomodasi yang pendek
7.Bagian dari makhluk sosial
Selanjutnya kita akan melihat ciri-ciri perkembanganya :
I. CIRI – CIRI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
*.Masa Bayi (0-2 tahun)
Masa bayi adalah fase pertumbuhan dan perkembangan yang penting dalam sejarah kehidupan manusia. Periode ini juga dianggap periode vital karena masa ini merupakan masa pembentukan awal anak baik jasmani maupun mentalnya. Pada saat bayi lahir, kemampuan otak telah terbentuk selama dalam kandungan sekitar 50% dan kemampuan itu terus bertambah sampai dengan umur lima tahun. Pertumbuhan jasmani otak sangat bergantung kepada kodisi kesehatan.
Pada usia 1-3 bulan, aktivitas bayi dalam sehari semalam 75%, sedangkan 25% sisanya terdiri atas gerak spontan, makan, minum,reaksi negatif seperti menangis, dan keadaan samar-samar.
Pada usia 4-6 bulan 50% aktivitas bayi dalam sehari semalam adalah tidur, sedangkan 50% lainnya diisi dengan aktivitas gerak spontan, makan-minum, reaksi negatif, bangun yang tenang, antara bangun dan tidur, dan bereksperimen.
Pada usia 7-10 bulan 50% aktivitas bayi dalam sehari semalam tidur, 50% lainnya digunakan untuk aktivitas makan, minum, bangun yang tenang, reaksi negatif, antara bangun dan tidur, gerakan impulsif dan reaksi-reaksi lainnya. Beberapa perubahan aktivitas bayi pada bulan ke 10, anak sudah jarang menangis, menampilkan ekspresi muka yang lucu, dari merangkak mencoba belajar berdiri, berupaya menjangkau dan memegang benda sekitarnya dan memasukannya ke mulut, mulai belajar mengucapkan kata-kata untuk menyatakan pikiran dan perasaannya,
*.Anak kecil (2-3 tahun)
Ciri perkembangan penting pada masa anak kecil, ialah anak oleh karena telah mencapai kematangan dalam perkembangan motorik, seperti berjalan, belari,menggulingkan badannya, menangkap, melempar, memukul, menendang; dan juga mencapai kematangan dalam berbicara, maka anak mulai memasuki fase “membebaskan diri” dari dekapan ibu dan lingkungan perlakuan sebagai bayi. Dengan kematangan yang dicapai anak kecil mulai bereksplorasi dengan lingkungan fisik dan sosial. Apa saja yang ada disekitarnya ingin di pegang, dicari tahu apa, mengapa, bagaimana. Rasa ingin tahu (sense of curiosity) anak mulai tumbuh. Anak mulai mengembangkan hubungan sosial. Ia mulai ingin terlibat dalam aktivitas bermain dengan teman sebaya, walaupun belum intensif, cenderung bermain dengan aktivitas sendiri. Ia hanya senang berada di antara teman-temannya sambil mengamat-amati cara-cara dan aturan permainan. Dalam hal menggambar, tampak anak sekedar mencoret-coret saja sebagai awal dari masa menggambar sebenarnya.
Masa anak kecil adalah momentum awal bagi upaya melakukan pembimbingan secara intensif, sistematis, dan profesional bagi anak sebab pada masa inilah anak mulai mengembangkan kemampuan dalam simbol-simbol mental, berimaginasi, berbicara untuk berkomunikasi, menggambar, dan bermain.
Anak Pra Sekolah & Taman Kanak-kanak (4-6 tahun)
Ciri perkembangan penting pada usia 4-6 tahun dari segi kemampuan motorik ialah anak telah mencapai kematangan dalam berbagai fungsi motorik: kaki, tangan, kepala, dan badan. Perkembangan kemampuan motorik ini diikuti dengan perkembangan intelektual dan sosio-emosional anak.
Kematangan dalam perkembangan berbagai aspek motorik, intelektual, emosional, sosial dan moral rata-rata anak usia 4-6 tahun, maka dikembangkan satu sistem pendidikan yang dikenal di TK. Prinsip pendidikan TK adalah mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual, emosional, moral, spiritual,dan sosial, memalui aktivitas bermain. Jadi aktivitas bermain merupakan kurikulum lokomotif bagi anak dalm proses belajar mengembangkan berbagai aspek kemampuan diri yang dimilikinya. Oleh karena itu pendidikan di TK sebenarnya berorientasi kepada pemantapan kemampuan motorik, pengembangan kemampuan intelektual, emosional dan kreativitas, serta peletakan dasar nilai-nilai moral dan disiplin pada anak melalui aktivitas bermain, sebagai persiapan memasuki pendidikan formal di Sekolah Dasar. Dengan demikian, bagi para guru dan pembimbing anak TK perlu memahami mengenai orientasi dan strategi utama dalam pembelajaran. Imajinasi intelektual dan keinginan anak untuk mencari tahu dan bereksplorasi terhadap lingkungan adalah ciri utama aktivitas anak pada usia 4-6 tahun.
II.KEMAMPUAN DASAR ANAK USIA DINI
*.Kemampuan Kognitif Anak
Sesuai KBK-TK disebutkan bahwa pengembangan kemampuan kognitif anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir anak agar dapat mengolah perolehan belajarnya. Menurut PIAGET menjelaskan bahwa kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya sudah dirintis sejak kecil. Contohnya anak sudah dapat membedakan warna, binatang, beberapa benda hidup dan benda mati. Anak usia TK sudah bisa berhitung, mulai dari mengenal angka, mengukur, menghitung benda. Perkembangan kognisi anak menurut Piaget terletak pada tahap praoperasional. Pada tahap ini pemikiran anak masih didominasi oleh hal-hal yg berkaitan dengan aktifitas fisik dan pengamatan sendiri.
*.Kemampuan Sosial – Emosional Anak
Pengembangan ini bertujuan agar anak merasa percaya diri, mampu bersosialisasidengan orang lain, menahan emosinya jika berada dalam suatu keadaan sesuai dengan kemampuan dan tingkat perkembangan anak. Pengembangan sosial anak dapat dikembangkan dengan mengajak anak untuk mengenal diri dan lingkungannya. Interaksi dengan keluarga sendiri dan orang lain juga akan menbantu anak membangun konsep dirinya. Dengan bermain anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, misalnya dengan bermain peran prilaku. Dengan belajar beberapa peran tersebut, anak dapat belajar mengenai baik atau buruk, boleh atau tidak dilakukan.
*.Kemampuan Nilai Moral Agama Anak
Sesuai dengan KBK TK pengembangan kemampuan mengenal nilai dan moral agama bertujuan agar anak dapat mengenal penerapan tatacara beribadah atau berdoa sesuai agamanya, dan membiasakan mereka untuk hidup sesuai aturan agama, tentunya sesuai dengan tingkat pemahaman anak TK.
*.Kemampuan Fisik Motorik Anak
Hafidin, dkk menguraikan bahwa untuk pengembangan kemampuan motorik kasar anak , guru terencana dapat mengajak anak untuk melakukan gerakan dan permainan serta keghiatan yang membantu meningkatkan perkembangan keterampilan. Kegiatan ini dapat diiringi musik atau irama. Termasuk dalam kegiatan ini adalah melompat, memanjat, melalui rintangan, berguling. Kegiatan permainan sebaiknya melibatkan seluruh kelompok anak dan membuat anak-anak bergerak.
*.Kemampuan Bahasa Anak
Perkembangan bahasa anak TK masih jauh dari semprna. Namun demikian potensinya bisa dirangsang lewat komunikasi yang aktif dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Kemampuan bahasa anak TK dapat ditumbuhkan dengan membacakan cerita, berita atau surat untuknya atau bermain tebak-tebakkan kata, mendongeng dengan alat peraga atau membuat pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab anak. Keterampilan berbahasa anak harus diasah sejak dini, anak dapat diarahkan untuk belajar menyimak, membaca, menulis, dan berbicara.
*.Kemampuan Seni Anak
Kemampuan kemampuan seni bertujuan agar anak dapat menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan, dan menghargai hasil seni.Aktivitas seni unyuk anak TK yang lain adalah kegiatan bermain musik, kegiatan bernyanyi, dan kegiatan menari. Bermain musik juga dapat meningkatkan koordinasi mata tangan dan keterampilan motorik anak.
III.KECERDASAN JAMAK (MULTIPLE INTELEGENCES)
*.Kecerdasan Linguistik
Adalah keberdasan dalam memperoleh kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik lisan maupun tulisan. Anak – anak yang versad dalam bidang ini akan senang bercerita, membaca dan atau menulis cerita atau puisi. Sebenarnya kecerdasan ini dapat meliputi empat keterampilan yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Namun tak semua anak yang cerdas dalam kecerdasan linguistik ini menguasai keempat keterampilan tersebut.
*.Kecerdasan Logika Matematik
Adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Kecerdasan ini melibatkan keterampilan mengolah angka dankemahiran menggunakan logika atau akal sehat. Anak anak yang cerdas di bidang ini akan senang bertanya dajn ingin tahu segala hal yang berkaitan dengan peristiwa alam. Mereka juga senang berhitung dan mengerjakan hal hal yang berkaitan dengan angka-angka.
*.Kecerdasan Fisik (Kinestetik-Jasmani)
Adalah anak – anak yang sering tak dapat diam saat sedang duduk, makan, dan biasanya anak yang cerdas dibidang ini adalah anak yang sering dan senang bermain diluar. Mereka senang melompat, berlari, membuat sesuatu misalnya melukis. Beberapa anak yang cerdas di bidang ini menjadi atlet atau penari atau aktor yang baik. Anak – anak yang butuh dibidang ini butuh kesempatan untuk belajar dengan bergerak ayau meragakan sesuatu .
*.Kecerdasan Visual Spasial
Anak – anak pada usia ini suka membangun dengan balok – balokLego atau melamun untuk menghasilkan sesuatu, seperti mesin atau bentuk bangunan yang indah. Anak yang memiliki kecerdasan visual adalah seorang anak yang memiliki kemampuan untuk memvisualkan gambar di dalam fikirannya atau seorang anak dapat memecahkan suatu masalah atau menemukan suatu jawaban dengan memvisualkan suatu gambar.
*.Kecerdasan Intrapersonal
Anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal mempunyai kemampuan untuk berfikir secara reflektif, mengacu pada kesadaran reflektif menangani perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Anak yang cerdas dibidang ini sangat memahami dirinya sendiri, apa kelemahan dan kekurangannya dan sangat percaya diri.
*.Kecerdasan Interprasional (Antarpribadi)
Adalah kemampuan berfikir lewat berkomunikasi dengan orang lain. Anak – anak yang berbakat dibidang ini dapat memahami orang lain. Oleh sebab itu, anak yang cerdas dibidang ini dapat menjadi pemimpin teman-temanya karena ia dapat mengorganisir, dan pandai berkomunikasi dengan orang lain. Cara belajar terbaik anak – anak yang cerdas di bidang ini adalah dengan berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Secara umum kecerdasan ini menganggu pada keterampilan manusia, seperti keterampilan membaca, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.
*.Kecerdasan Musikal
Anak yang cerdas dibidang musikal senang bernyanyi, bersenandung , atau bersuil seorang diri. Jika mendengar suara musik anak akan menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama dan ikut bernyanyi. Ada pula anak yang cerdas dibidang ini dengan cara menunjukkan rasa apresiasi yang baik pada musik.
*.Kecerdasan Naturalis
Adalah anak yang mempunyai keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora atau fauna serta kepekaan terhadap fenomena alam. Anak – anak dekat bakat ini dapat menjadi seorang pencinta alam. Mereka lebih suka berada di alam terbuka, mengumpulkan flora, fauna atau batu-batuan.
*.Kecerdasan Eksistensialis
Adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan diri dalam hubungan dengan jangkauan kosmos terjauh, yang tak terhingga besar atau kecilnya, misalnya memahami makna hidup dan cinta pada manusia.
Daftar Pustaka :
Aisyah Siti. 2007.Modul Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Universitas Terbuka
Ali Nugraha dan Neny Ratnawati. 2003.Kiat Merangsang Kecerdasan Anak. Jakarta:
Puspa Swara
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 18.22 Tidak ada komentar:
Rabu, 05 Februari 2014
Hindari Memberi Label Balita “Cengeng”
Ilustrasi http://www.tempo.co.id
“Iya, ini anak cengeng banget!” kalimat ini justru membuat anak memakai tangisnya sebagai senjata untuk mendapatkan kemauannya. Di dalam benaknya akan tertancap label bahwa dia anak cengeng. Maka ketika dia mengalami kesulitan, dia hanya tahu satu cara mengatasinya, yaitu menangis.
Balita juga tidak pernah belajar mengutarakan keinginannya, pendapat atau menyelesaikan masalahnya dengan benar. Lalu apa yang bisa orangtua lakukan?
*.Perhatikan mana tangisan yang benar, dan mana yang pura-pura. Biasanya tangisan palsu tanpa air mata, berkepanjangan atau berlebihan. Misalnya dengan berteriak atau merusak.
*.Hadapi anak menangis dengan tenang, tidak berlebihan, tanyakan apa yang terjadi dan apa yang dia inginkan. Bila anak tantrum, diamkan sejenak. Biarkan dia meluapkan emosinya sebelum Anda ajak bicara. Yang terpenting, jangan pernah menyebutbalitasebagai “Anak Cengeng. @ Ayah bunda
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 01.41 Tidak ada komentar:
Selasa, 04 Februari 2014
10 POLA ASUH ANAK CERDAS
Kecerdasan anak hingga besar nanti dipengaruhi faktor lingkungan dan pola asuh yang diterimanya. Harus bagaimana agar ia tumbuh cerdas? Perhatikan 10 hal ini.
1.Bebaskan anak mengeksplorasi lingkungan.Lingkungan menjadi sarana luas bagi anak untuk belajar tentang berbagai macam hal. Eksplorasi di alam memicu anak aktif bergerak juga meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap berbagai aspek kehidupan. Dorong anak mengeksplorasi lingkungan yang baru dikenalnya –misalnya sambil menyusuri sungai, ia belajar tentang sifat air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.
2.Ikuti minat anak.Untuk menggali potensi luar biasa di dalam diri anak, beri dukungan penuh pada bidang-bidang yang disukai anak, kalau perlu ikut berlatih dan menjadi teman berlatih yang menyenangkan untuknya.
3.Tuturkan pengetahuan tentang dunia dan isinya.Berikan anak fasilitas dan kesempatan untuk mengenal dunia beserta seluruh aspek kehidupan. Ini membuat anak berpandangan terbuka terhadap berbagai berbagai hal ‘baru’ sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.
4.Bacakan aneka buku pengetahuan secara rutin dengan suara yang keras dan intonasi yang benar.Selain menumbuhkan minat membaca anak, anak juga akan menyerap pengetahuan dari buku untuk menunjang minatnya. Kebiasaan membaca buku juga menanamkan ikatan batin antara Anda dan si kecil.
5.Jadilah model yang baik.Anak akan meniru orang tuanya. Maka, orangtua wajib menjadi role model atau panutan terbaik bagi anak –dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Tunjukkan minat Anda untuk selalu belajar dan menemukan hal-hal baru yang menarik dan kreatif bersama anak. Tunjukkan dan terapkan pola hidup sehat. Tunjukkan pula sikap menghargai serta empati kepada setiap anggota keluarga, orang lain, serta mahkluk hidup lain.
6.Seringlah bertanya kepada anak. Ajukan beberapa pertanyaan kepada anak yang akan memancingnya untuk memberi jawaban berupa penjelasan yang juga merangsangnya untuk adu argumentasi. Atau ajak dia berdiskusi. Anda dapat memulainya dengan menanyakan secara rinci seputar hal-hal yang ia minati atau yang sedang dilakukannya. Selanjutnya, kembangkan untuk menggali jawaban dan pendapat anak terhadap berbagai hal.
7.Beri kesempatan mengambil keputusan.Membiasakan anak untuk mengambil keputusan akan melatih anak untuk belajar sebab-akibat serta tanggung jawab. Melatih anak untuk mengambil keputusan juga akan memicu anak untuk belajar berpikir analitis dengan merangkaikan hal-hal yang sudah dipelajari dan dipahaminya.
8.Tingkatkan kesempatan bersosialisasi.Semua pengalaman emosional yang diperoleh anak akan mempengaruhi pembentukan jalinan antar sel-sel saraf pada otaknya. Anak butuh kesempatan bersosialisasi seluas-luasnya karena akan memperkaya pengalaman emosional anak, serta sarana untuk belajar mengekspresikan perasaannya. Semakin baik kecerdasan emosional anak, semakin baik pula penyampaian rangsang antar sel-sel saraf pada otaknya.
9.Cukupi kebutuhan gizinya.Nutrisi untuk otak, terutama DHA, terbukti berperan dalam perkembangan otak anak pada “periode emas”. Berikan konsumsi jenis makanan kelompokbrain food, misalnya makanan sumber protein, untuk meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, berpikir dan kewaspadaan.
10.Jagakesehatananak.Olahraga atau latihan fisik tidak hanya membuat tubuh anak sehat, tapi juga membuat dia cerdas! Sebab, selain sirkulasi oksigen, gula dan zat gizi menjadi lancar ke seluruh tubuh dan otak, juga akan memicu produksi hormon untuk sel saraf (nerve growth factor). Dengan tubuh sehat, anak memiliki kesempatan luas untuk belajar berbagai hal, serta mengeksplorasi potensi kecerdasan dalam dirinya dengan optimal.By. Ayah Bunda
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 19.26 Tidak ada komentar:
Rabu, 08 Mei 2013
Tips Pendidikan Anak Usia Dini
Berfokus pada pendidikan anak Anda telah menjadi hal yang lebih penting sekarang daripada sebelumnya.Anda tidak hanya memastikan bahwa anak-anak Anda pergi ke sekolah terbaik tetapi juga memastikan bahwa pendidikan mereka menyediakan mereka dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk masa depan.
Banyak orang tua merasa sulit untuk memperhatikan pendidikan anak-anak mereka, terutama untuk orang tua yang bekerja. Tapi orang tua harus bersedia berkorban demi kemajuan pendidikan anaknya. Lihatlah beberapa tips berikut ini yang akan membantu Anda memastikan bahwa anak Anda menerima jenis pendidikan yang diajarkan dengan benar.
Pertama, Anda harus memahami kemampuan anak Anda. Anda perlu memahami kemampuan mereka sebelum Anda mulai mengajari mereka sesuatu yang baru. Setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan dan kekuatan yang berbeda. Sangat penting untuk memahami anak Anda sendiri dan tidak membandingkannya dengan anak-anak yang lain. Beberapa anak mungkin memiliki kecepatan belajar yang lebih lambat dibandingkan dengan orang lain dan sebagai orang tua, Anda akan perlu mengidentifikasi itu. Luangkan waktu bersama anak Anda untuk memahami dirinya dan keterampilannya serta menilai seberapa tajam dia dalam memilah hal-hal baru. Anda harus memahami mereka jika Anda benar-benar ingin mereka belajar bisa belajar dengan baik.
Pastikan bahwa lingkungan tempat anak Anda belajar adalah lingkungan belajar yang baik. Lingkungan sangat mempengaruhi kemampuan seorang anak untuk belajar. Anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan dia untuk berkonsentrasi. Bermain dan belajar harus seiring sejalan, sehingga harus ada beberapa kegiatan bermain bersama dan beberapa kegiatan pendidikan.
Pastikan bahwa anak Anda aman. Jangan memarahi mereka jika mereka membuat kesalahan, karena kesalahan adalah langkah pertama untuk memperbaiki kesalahan. Biarkan anak-anak belajar dari kesalahan mereka. Ini membantu mereka belajar progresif dan memperkuat landasan pendidikan mereka. Cobalah untuk menjaga kepentingan mereka dengan membuat proses belajar menyenangkan.
Membantu anak berprestasi dengan meningkatkan kemampuan mereka. Membuat mereka belajar untuk mengharapkan lebih dari apa yang mereka bisa. Dorong mereka untuk menjadi lebih baik tetapi jangan sampai terlalu memaksa mereka. Pikirkan kemampuan anak untuk menjadi lebih baik dan kemudian menetapkan batas yang realistis bagi mereka untuk mencapainya.
Jika Anda benar-benar ingin anak Anda belajar, Anda perlu bersabar. Pikiran anak-anak masih berkembang dan Anda harus memberi mereka waktu. Anda harus konsisten dalam usaha Anda dan harus mengajar mereka bukan untuk kepentingan itu, tapi untuk memastikan bahwa mereka belajar sesuatu. Membangun ikatan positif dengan anak Anda sehingga dia merasa nyaman belajar dengan Anda. Jika Anda terlalu sibuk atau bersikap kasar kepadanya, anak Anda mungkin akan takut kepada Anda. Ini akan menghambat proses belajar dan anak mungkin akan kehilangan minat dalam pendidikannya.
Sebagai orang tua, Anda harus aktif dalam membimbing anak dan memastikan mereka mendapatkan lembaga pendidikan yang tepat. Temukan sekolah terbaik untuk mereka, tapi Anda tetap harus membimbing mereka sepulang dari sekolah dan membantu mereka serta mengajarkan mereka hal-hal baru untuk mereka pahami.
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 13.30 Tidak ada komentar:
Label: Tips pendidikan usia dini
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, oleh karena itu setiap warga Negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjangpendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir Berikutnya memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan Pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembanganya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajarbagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual, emosional dan sosial.
Pendidikan Anakk usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagianak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembanganjasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Mengapa pendidikan anak usia dini itu sangat penting?
Berdasarkan hasil penelitiansekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun,8 0% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.
Hal ini berarti bahwa perkembanganyang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.
Menurut Byrnes, pendidikan anak usia diniakan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. “Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi danproblem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini,” jelas Byrnes.
Selanjutnya menurut Byrnes, bahwa pendidikan anak usia diniitu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalahpersiapan pendidikan mereka di usia dini.
Ada dua tujuan mengapa perlu diselenggarakan pendidikan anak usia dini, yaitu:
Tujuan utama: untuk membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasarserta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Singkatnya, pendidikan anak usia dinimerupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Apa perbedaan anak yang mendapatkan pendidikan anak usia dinidi lembaga yang berkualitas dengan anak yang tidak mendapatkan pendidikan anak usia dini?
Menurut Byrnes (Peraih gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia) di lembagPendidikan Anak Usia Diniyang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dansemangat untuk belajar.
Sementara, anak yang tidak mendapatpendidikan usia dini, akan lamban menerima sesuatu. Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadinya lamban.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan anak usia dinimerupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Begitupentingnya pendidikanini tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan pendidikanini hingga pemerintah Indonesia pun memberikan layanan pendidikangratishingga tingkat SMP.
( Pel.com)
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 11.39 1 komentar:
Kamis, 20 Desember 2012
PELATIHAN BALLONING HIMPAUDI KOTA JKT TIMUR
Jakarta, Pelatihan Balloning khusus untuk guru PAUD yang di adakan di sebuah mall di bilangan jakarta timur membuat keceriaan tersendiri, tepatnya di TAMINI HIMPAUDI KOTA Jakarta timur sengaja membuat pelatihan Balloning dan Puppet show, antusias para peserta terlihat ketika nara sumber kak pujianto dengan totalitas mengajar bagaimana membuat ballon menjadi sebuah aktifitas anternatif bagi anak-anak usia emas,
Guru Harus di bekali kreatifitas, karena kalau tidak anak-anak didik tidak kreatif pula.
Acara yang diselenggarakan dengan durasi 5 jam membuat para peserta puas.
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 09.03 Tidak ada komentar:
Kamis, 11 Oktober 2012
CARA & TIPS MENDIDIK ANAK
Pedoman Para Guru.blogspot.com.Setiap orang tua pasti menginginkananaknya sukses secara akademik di sekolah, dan merupakan kebanggaan jika anak kesayangannya mendapatkan ranking satu di kelasnya. bahkan tak sedikit orang tua yang memaksakan anaknya untuk belajar setiap hari, bahkan mengikuti bermacam-macam les sampai-sampai lupa akan keterbatasan kemampuan anak.
banyak orang tua yang memaksakan anak untuk mendapatkan rangking karena orang tua sedang terlibat persaingan antar sesama orang tua akan keberhasilan mereka dalam mendidik anaknya untuk meraih rangking pertama di sekolah.
Dalam buku Anak Cerdas yang di tulis oleh Ir jarot wijanarko pendiri Happy Holy Kids di tulis bahwa menurut Daniel guleman keberhasilan dipengaruhi 80 %kecerdasan hati. artinya orang yang berhasil dagang misalnya bukan yang pintar otaknya saja namun yang hatinya baik.
Kalau kita melihat orang-orang besar dunia, banyak dari mereka yang sukses justru memiliki catatan prestasi akademik yang pas-pasan bahkan bisa dibilang buruk namun mereka sukses di bidangnya, sebut saja Albert Einstein, Charles Darwin atau pemilik raksasa software dunia Bill Gates, pemain golf kelas dunia Tiger Wood dan masih banyak lagi.
Kesimpulanya adalah selain IQ ada kecerdasan lain yang juga tidak kalah besar pengaruhnya terhadap prestasi seorang anak, ada kecerdasan emosi (EQ: emotional quotient), kecerdasan sosial (social quotient) dan yang baru-baru ini banyak di sebut-sebut orang yaitu kecerdasan spritual (spiritual quotient).
Bagaimana cara mendidik anak dalam keluarga
Kenali bakat dan minat anak
Berilah kebebasan bagi anak untuk mengikuti beberapa kegiatan extrakulikuler di sekolah atau di lingkungan rumah, seperti sepak bola, bulutangkis, berenang, bela diri menyanyi bermain musik, melukis dan lain sebagainya. Dari kegiatan ini kita bisa menggali bakat dan minat anak.
Jangan membanding-bandingkan anak
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, mempunyai kelebihan dan kekurang masing-masing, ada anak yang kurang dalam hitungan tetapi memiliki kelebihan dalam bahasa, tidak bisa kita membandingkan dengan saudaranya yang memiliki prestasi baik dalam matematika tetapi buruk dalam kesenian.
Ajari anak dengan keteladanan
Kita tidak bisa memaksa anak untuk mengosok gigi setiap menjelang tidur kalau kita sendiri sebagai orang tuanya tidak pernah melakukan hal itu, ajaklah anak untuk melakukan shalat lima waktu dengan memberi contoh melaksanakan shalat, begitupun dengan kejujuran dan akhlak yang baik.
Kompaklah dalam medidik anak
Jika si Ibu menyuruh anaknya untuk belajar, maka si Ayah jangan membiarkan anaknya untuk terus-menerus bermain game. Ayah dan ibu harus memiliki visi dan misi yang sama dalam mendidik anak.
Sediakan waktu yang cukup bersama anak
Jangan berikan waktu sisa untuk anak, luangkan waktu untuk menjalin kebersamaan bersama anak karena sudah menjadi hak anak untuk meminta waktu dari orang tuanya, jangan biarkan anak untuk lebih memilih lingkungan lain di luar keluarga dalam mengemukakan unek-uneknya karena bukan tidak mungkin malah mendapatkan saran-saran negatif dari lingkungan pergaulannya.
Perlakukan anak secara postif
Jangan pernah mengatakan sesuatu yang negatif terhadap anak kita misalnya :”dasar bodoh begini aja nggak bisa…!”perkataan orang tua adalah doa, berusahalah untuk menghargai anak secara positif, puji dan beri penghargaan terhadap anak apabila anak kita melakukan hal-hal yang baik karena hal ini akan menimbulkan dampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak adalah anugerah dan titipan bukan beban, perlakukan anak sebagai individu yang memiliki hak yang sama seperti orang dewasa lainnya, jangan paksakan anak untuk menjadi sesuatu yang diinginkan orang tuanya, jangan menekan anak untuk selalu mendapatkan nilai akademik yang hebat dalam matematika padahal sebenarnya anak kita mempunyai kemampuan lebih dalam seni musik dan bahasa. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menggali dan mengoptimalkan kemampuan anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki anak.
Di ambil dari berbagai sumber, semoga bermanfaat.
Diposkan oleh Seputar Dunia Anakdi 05.59 Tidak ada komentar:
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)
MENJADI GURU YANG KREATIF DAN TELADAN
Menjadi Guru Anak Usia Dini Wajib Kreatif, dan memiliki pengetahuan minimal pengetahuan dunia anak, Selain itu Seorang guru/ Pendidikan Anak Usia dini bukan saja menjadi sumber pengetahuan namun juga harus menjadi sumber teladan yang baik bagi anak didiknya.
Jadilah guru yang berkarakter, guru yang penuh hikmat, tegas tapi bijaksana. Jadilah guru yang bukan hanya bisa menghukum tetapi sering memuji siswanya serta GURU YANG KREATIF.Sekian salam guru

GUPRES

GURU TK DW II KAMULAN

Pedoman Pemilihan Guru/Kepala
Sekolah/Pengawas Berprestasi
2011 Guru berprestasi adalah guru
yang memiliki kinerja melampaui
standar yang ditetapkan oleh
satuan pendidikan, mencakup
kompetensi pedagogik,
kepribadian, sosial, dan profesional serta menghasilkan
karya kreatif dan inovatif
yang diakui baik pada
tingkat daerah, nasional dan/
atau internasional; dan secara
langsung membimbing peserta didik hingga mencapai prestasi di
bidang intrakurikuler dan/atau
ekstrakurikuler. Tujuan Sesuai dengan yang tersebut
pada Buku Pedoman Pemilihan
Guru berprestasi 2011,
tujuannya adalah: 1. Mengangkat guru sebagai
profesi terhormat, mulia,
dan bermartabat, serta
terlindungi. 2. Meningkatkan motivasi
dan profesionalisme guru
dalam pelaksanaan tugas
profesionalnya. 3. Meningkatkan persaingan
yang sehat melalui
pemberian penghargaan di
bidang pendidikan. 4. Membangun komitmen
mutu guru dalam
kerangka peningkatan
mutu pembelajaran menuju
standar nasional
pendidikan. Sifat 1. Pemilihan guru
berprestasi bersifat
kompetitif, setiap guru
yang memenuhi
persyaratan berhak
mengikuti program ini. 2. Pemilihan guru berprestasi
dilaksanakan secara
objektif, transparan, dan
akuntabel. Objektif mengacu kepada
proses penilaian dan
penetapan predikat guru
berprestasi pada semua
tingkat, baik di tingkat
sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi,
maupun tingkat nasional,
dilaksanakan secara impartial,
tidak diskriminatif, dan
memenuhi standar penilaian
yang ditetapkan. Transparan mengacu kepada
proses yang memberikan
peluang kepada semua
pemangku kepentingan untuk
memperoleh akses informasi
tentang penilaian dan penetapan predikat guru
berprestasi pada semua
tingkat, sebagai suatu sistem
yang meliputi masukan, proses,
dan hasil penilaian. Akuntabel merupakan proses
penilaian dan penetapan
predikat guru berprestasi pada
semua tingkatan yang dapat
dipertanggungjawabkan kepada
semua pemangku kepentingan pendidikan, baik secara
akademik maupun administratif. Persyaratan Persyaratan peserta antara
lain: Memiliki kualifikasi
akademik minimal sarjana
(S1) atau diploma empat
(D-IV) Guru unggul/mumpuni
dilihat dari kompetensi
pedagogik, kepribadian,
sosial, dan profesional.
Subkompetensi masing-
masing kompetensi disajikan pada bagian
penilaian. Mekanisme dan Tahap/Jawal Mekanisme penyelenggaraan
program pemilihan guru
berprestasi dilakukan secara
berjenjang mulai Tingkat Satuan
Pendidikan, Kecamatan,
Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional. 1. Tingkat Sekolah: April
2011 dan Piagam
penghargaan dan
hadiah diberikan
kepada guru pada
Peringatan Puncak Hari Pendidikan Nasional
tanggal 2 Mei 2011. 2. Tingkat Kecamatan:
Pertengahan bulan Mei
2011. 3. Tingkat Kabupaten/Kota:
Pertengahan bulan Juni
2011. 4. Tingkat Provinsi: Minggu
pertama dan kedua bulan
Juli 2011 5. Tingkat Nasional: Minggu
kedua dan ketiga bulan
Agustus 2011. Panitia Pemilihan Guru
Berprestasi Tingkat Satuan
Pendidikan dibentuk dengan
surat Keputusan Kepala
Sekolah yang keanggotaannya
terdiri dari unsur-unsur kepala sekolah, guru, pengawas
sekolah, dan komite sekolah
dan/atau tokoh masyarakat/
tokoh pendidikan setempat.
Kepanitiaan dari unsur guru
dipilih dari guru-guru yang terlibat aktif dalam kegiatan
KKG/MGMP dan sejenisnya. Aspek Yang Dinilai Aspek yang dinilai dalam
pemillihan guru berprestasi
yaitu kinerja guru yang
mencakup: (1) kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial,
dan profesional; (2) hasil karya kreatif atau inovatif;
(3) pembimbingan peserta didik,
dan (4) pengembangan diri. Penghargaan: 1. Tingkat Sekolah: Hadiah
dan Piagam dari Kepala
Sekolah 2. Tingkat Kecamatan: Hadiah
dan Piagam dari Camat. 3. Tingkat Kabupaten/Kota:
Hadiah dan Piagam dari
Bupati/Wali Kota. 4. Tingkat Provinsi: Hadiah
dan Piagam dari Gubernur 5. Tingkat Nasional: Hadiah
dan Piagam dari
Mendiknas. Pemilihan Kepala Sekolah
Berprestasi Pemilihan diawali di tingkat
kecamatan. Kepala sekolah
berprestasi secara berjenjang
mendapat penghargaan dari
pimpinan sesuai jenjang dan
diserahkan pada upacara Hari Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus. Tingkat kecamatan: SK
dan Piagam yang
ditandatangani Camat. Tingkat kab/kota: SK dan
Piagam yang
ditandatangani Bupati/Wali
Kota. Tingkat provinsi: SK dan
Piagam yang
ditandatangani Gubernur. Tingkat nasional: SK dan
Piagam yang
ditandatangani Menteri. Pemilihan Pengawas Sekolah
Berprestasi Tujuan pemberian penghargaan
Pengawas Sekolah Berprestasi
adalah: 1. Meningkatkan prestasi,
kinerja, dan motivasi kerja
pengawas sekolah. 2. Meningkatkan harkat
dan martabat
pengawas sekolah
sebagai tenaga
kependidikan yang
profesional. 3. Meningkatkan rasa
percaya diri pengawas
sekolah dalam
mengemban
tanggungjawab sebagai
tenaga kependidikan. 4. Memberikan pengakuan
dan penghargaan
terhadap prestasi
pengawas sekolah atas
kemajuan sekolah di
wilayah tugasnya. 5. Memberikan kesempatan
kepada pengawas sekolah
untuk mengaktualisasikan
dirinya sebagai pengawas
sekolah profesional. Mekanisme pemilihan pengawas
berprestasi hampir sama dengan
pemilihan kepala sekolah yakni
diawali dari tingkat kecamatan.
Pengawas berprestasi tingkat
kecamatan ditetapkan dengan SK Camat dan piagam
penghargaan juga
ditandatangani oleh Camat. Untuk keterangan lebih lanjut
dapat membaca buku pedoman.
Bila berminat memiliki buku
pedoman, dapat diunduh dengan
meng-klik gambar buku di atas.